Senin, 06 Maret 2017

SUMBANGSIH NILAI MATEMATIKA DALAM MENINGKATKAN MORAL BANGSA INDONESIA

SUMBANGSIH NILAI MATEMATIKA DALAM MENINGKATKAN MORAL BANGSA INDONESIA
Halimah Prasetyaningrum
Pendidikan Matematika Universitas Negeri Jakarta
halimahiyum@gmail.com

Indonesia, merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah pulau terbanyak di dunia. Tak salah, jika predikat Negara Kepulauan diberikan kepadanya. Letak geografis ini pulalah yang membuat negara Indonesia memiliki keanekaragaman budaya. Terdapat kurang lebih 6.000 pulau dengan ciri khasnya masing – masing yang berada pada interval Sabang sampai Merauke. Keanekargaman budaya ini dapat menjadi sebuah anugerah, akan tetapi dapat pula menjadi sebuah musibah. Di era globalisasi saat ini, keanekaragaman budaya di Indonesia apakah merupakan sebuah anugerah atau musibah?
            Keduanya mungkin terjadi. Keanekaragaman budaya tersebut akan menjadi sebuah anugerah ketika masyarakat dapat mengolahnya dengan benar. Hal itu dapat kita lihat dari banyaknya kebudayaan Indonesia yang disukai oleh masyarakat dunia, seperti tarian, alat musik hingga makanan khas Indonesia. Namun sayangnya, kesadaran masyarakat Indonesia akan harta karun yang terdapat di negaranya masih sangat kurang. Ketika ada kebudayaan yang diklaim oleh bangsa lain, barulah masyarakat menyadari betapa berharga dan menggiurkan budaya negaranya. Haruskah semua budaya Indonesia diklaim oleh bangsa lain baru masyarakat sadar akan arti pentingnya budaya Indonesia?
            Hal yang lebih menyedihkan lagi adalah terjadinya krisis identitas di masyarakat Indonesia. Budaya asli yang merupakan ciri khas bangsa ini lambat laun mulai tergerus oleh budaya hedonisme dari barat. Banyak pemuda saat ini yang lebih senang memainkan drum daripada angklung. Banyak yang lebih senang bercengkrama dengan handphone daripada berbicara langsung dengan teman di sebelahnya. Kemana perginya budaya gotong royong bangsa ini yang terkenal hingga mancanegara?
            Krisis identitas inilah yang saat ini ingin diperbaiki oleh pemerintah lewat pendidikan karakter. Ketika seseorang memiliki karakter yang rendah, maka ia akan mengalami kesulitan dalam proses belajar hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam Undang – Undang (UU) nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) maka pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
            Pendidikan karakter ini dapat diimplementasikan kedalam setiap mata pelajaran, termasuk matematika. Matematika merupakan mata pelajaran yang sudah tidak asing di telinga kita. Namun sayangnya, menurut survey yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2013, kemampuan matematika siswa Indonesia menduduki peringkat 64 dari 65 negara yang di survey oleh PISA dengan memperoleh total skor 375. Sungguh ini sangat menyedihkan, padahal dengan atau tanpa kita sadari pengaplikasian ilmu matematika telah kita laksanakan dalam kehidupan sehari – hari. Sadarkah akan hal tersebut?
            Pengaplikasian ilmu matematika pun dapat kita temui dalam budaya Indonesia. Menurut Bishop matematika merupakan suatu bentuk budaya. Matematika sebagai bentuk budaya, sesungguhnya telah terintegrasi pada seluruh aspek kehidupan masyarakat dimanapun berada. Budaya akan mempengaruhi perilaku individu dan mempunyai peran besar pada perkembangan pemahaman individual, termasuk pembelajaran matematika.
            Lewat pembelajaran matematika seperti ilmu ukur ataupun perancangan ruangan dibutuhkan sebuah ketelitian dan kecermatan yang tinggi. Jika kita senang melakukan hal tersebut, kemudian kita mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari kemungkinan terjadinya kesalahan dalam hidup kita akan dapat kita minimalisir. Kita tidak dapat menghilangkan kesalahan itu karena kita bukanlah Tuhan yang Maha Sempurna. Selain itu, lewat matematika kita diajarkan untuk berpikir secara sistematis. Dalam mengerjakan soal matematika, kita memerlukan algoritma atau langkah – langkah yang sistematis agar pengerjaan soal itu benar. Begitu juga dengan kehidupan kita, hidup ini tak ayal layaknya soal matematika, ada yang secara tersurat dalam bentuk bilangan namun ada pula yang tersirat seperti soal – soal cerita. Namun, ketika kita sudah terbiasa berpikir sistematis, maka kita tidak akan gegabah dalam melakukan langkah – langakah penyelesaian masalah tersebut. Lakukan langkah pertama, setelah selesai lanjut ke langkah berikutnya dan begitupun seterusnya hingga sampai pada langkah penyelesaian. Sekali lagi, sudah sadarkah kita akan pentingnya belajar ilmu matematika?
            Matematika bukanlah pelajaran yanga hanya mementingkan kemahiran dalam pengukuran saja. Hal itu merupakan pandangan sempit terhadap matematikan dan ternyata pandangan itulah yang berkembang luas di masyarakat saat ini. Menurut Mulyono Abdurrahman (2003) mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia; suatu cara menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung, dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia itu sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan – hubungan. Erman Suherman (2001) menyatakan bahwa metematika mempelajari tentang keteraturan, tentang struktur yang terorganisasikan, konsep matematika tersusun secara hirarkis, berstruktur dan sistematika, mulai dari konsep yang paling sederhana sampai yang paling kompleks.
            Sejak jenjang sekolah dasar hingga jenjang perkuliahan matematika akan selalu hadir dalam jadwal pelajaran kita. Namun, sudah tahukah kita apa sebenarnya tujuan awal dari pembelajaran matematika? Sebagian besar dari kita belumlah mengetahui atau bahkan tidak peduli dengan hal itu. Andi Hakim Nasution (1982) mengungkapkan tujuan pembelajaran matematika, yaitu:
1.      Matematika dapat digunakan untuk mengetahui gejala - gejala alam.
2.      Dengan penggunaan metode matematika dapat diperhitungkan segala sesuatu dalam pengambilan keputusan.
3.      Matematika penting sebagai ilmu pengetahuan untuk perkembangan budya bangsa.
4.      Matematika dapat digunakan dalam lapangan kerja.
5.      Matematika dapat menyampaikan ide – ide secara benar, tepat dan jelas kepada orang lain.
Oleh karena itu diharapkan pengajaran matematika dapat dilakukan dengan kreatif oleh guru dan adanya penerimaan yang baik oleh siswa. Hendaknya, tujuan inilah yang harus disampaikan dan ditekankan oleh seorang guru kepada para siswa. Tentunya hal ini pun tidaklah bertentangan dengan Permendiknas No. 22 tahun 2006, yang menyatakan mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berikut:
1.      Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
2.      Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3.      Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4.      Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5.      Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Banyak sekali manfaat dari mempelajari matematika untuk meningkatkan budaya bangsa agar tidak tergerus oleh budaya – budaya pendatang lewat perbaikan moral. Lewat pembelajaran matematika, siswa dilatih untuk bisa mempersiapkan diri dalam mengahadapi masalah yang akan datang kapanpun. Jika kita lihat keadaan Indonesia saat ini, kasus korupsi menjadi noda hitam terbesar di wajah Indonesia dalam pandangan dunia. Jika pendidikan matematika di bangsa ini dilakukan dengan baik dan benar. Dengan menggunakan metode, strategi, alat, serta sumber pembelajaran yang sesuai, prinsip pembelajaran yang dilakukan dengan baik maka noda hitam ini tidak akan ada.
            Sebab, pembelajaran matematika yang sudah kita pahami tujuan awalnya jika dimplementasikan dalam kehidupan sehari – hari akan memberikan dampak positif bagi sang pelaku. Contohnya adalah sikap adil dan jujur yang sangat miskin dimiliki masyarakat Indonesia saat ini. Sikap adil ini dapat kita terapkan pada siswa lewat konsep prosentase. Sedangkan sikap jujur dapat ditumbuhkan dari kegiatan berpikir logis dalam kegiatan berhitung yang bermuara pada didapatnya nilai kebenaran. Konsep pembagian juga dapat dikaitkan dalam perumpamaan sikap jujur. Dimana saat melakukan pembagian bersusun dengan pola sisa yang diposisikan di tempat yang sesuai. Hal ini memberikan pengajaran bahwa sesuatu yang bersisa yang bukan menjadi milik kita harus dikembalikan pada tempatnya. Bukankah jika hal itu benar – benar dihayati dan dipahami Indonesia akan terhindar dari sebutan Negara Terkorup di Dunia?
Lewat ilmu matematika pula, seseorang dapat belajar untuk saling menghargai, sebab dalam penyelesaian masalah matematika tidak hanya akan berlaku satu rumus saja, tetapi bisa dua ataupun lebih rumus yang dapat digunakan untuk menyelesaikan sebuah soal. Ketika algoritma kita berbeda dengan orang lain namun ternyata hasil akhirnya sama kita harus menghargai itu, karena itulah salah satu seni di matematika. Sikap saling menghargai inilah yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia yang penuh dengan keanekaragaman budaya. Dimana sikap saling menghargai inilah yang melahirkan ciri khas bangsa Indonesia yang tidak akan ditemui di belahan bumi lainnya, yaitu gotong royong.
Oleh karena itu, pembelajaran matematika yang baik dan benar sangat dibutuhkan saat ini. Karena lewat pembelajaran matematika, siswa dipersiapkan untuk mampu mengahadapi berbagai masalah kehidupan dengan selalu berpikir secara logis dan bertindak secara sistematis serta teliti. Begitu banyak nilai – nilai kehidupan yang terkandung dalam matematika seperti kejujuran dan keadilan yang jika dipahami dan dihayati dengan baik akan dapat membuat Indonesia menjadi negara yang tidak akan dipandang sebelah mata lagi dikancah dunia.




















Daftar Pustaka
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional , Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas dan MA. Jakarta: Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional , Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas dan MA. Jakarta: Depdiknas.
Direktorat Jenderal Dikti Kemendiknas. 2010. Grand desain Pendidikan Karakter, arah serta Tahapan dan Prioritas Pendidikan Karakter bangsa tahun 2010 – 2015.
Nasution, Andi Hakim. 1982. Landasan Matematika. Jakarta: Bhatara Karya Aksara.
Sugandi, Asep Iklin. 2012.  Peran Matematika Dalam Menumbuhkan Karakter Siswa. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta, November 2012.
Suherman, Erman. dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jica.

http://www.masibas.my.id/2013/12/10-negara-peringkat-kemampuan.html?m=1 diunggah pada hari Minggu, 7 Februari 2016 pukul 17.15 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar