SUMBANGSIH
NILAI MATEMATIKA DALAM MENINGKATKAN MORAL BANGSA INDONESIA
Halimah
Prasetyaningrum
Pendidikan Matematika Universitas Negeri Jakarta
halimahiyum@gmail.com
Indonesia, merupakan salah satu negara yang
memiliki jumlah pulau terbanyak di dunia. Tak salah, jika predikat Negara
Kepulauan diberikan kepadanya. Letak geografis ini pulalah yang membuat negara
Indonesia memiliki keanekaragaman budaya. Terdapat kurang lebih 6.000 pulau
dengan ciri khasnya masing – masing yang berada pada interval Sabang sampai
Merauke. Keanekargaman budaya ini dapat menjadi sebuah anugerah, akan tetapi
dapat pula menjadi sebuah musibah. Di era globalisasi saat ini, keanekaragaman
budaya di Indonesia apakah merupakan sebuah anugerah atau musibah?
Keduanya mungkin
terjadi. Keanekaragaman budaya tersebut akan menjadi sebuah anugerah ketika
masyarakat dapat mengolahnya dengan benar. Hal itu dapat kita lihat dari
banyaknya kebudayaan Indonesia yang disukai oleh masyarakat dunia, seperti
tarian, alat musik hingga makanan khas Indonesia. Namun sayangnya, kesadaran
masyarakat Indonesia akan harta karun yang terdapat di negaranya masih sangat
kurang. Ketika ada kebudayaan yang diklaim oleh bangsa lain, barulah masyarakat
menyadari betapa berharga dan menggiurkan budaya negaranya. Haruskah semua
budaya Indonesia diklaim oleh bangsa lain baru masyarakat sadar akan arti
pentingnya budaya Indonesia?
Hal yang lebih
menyedihkan lagi adalah terjadinya krisis identitas di masyarakat Indonesia.
Budaya asli yang merupakan ciri khas bangsa ini lambat laun mulai tergerus oleh
budaya hedonisme dari barat. Banyak pemuda saat ini yang lebih senang memainkan
drum daripada angklung. Banyak yang lebih senang bercengkrama dengan handphone
daripada berbicara langsung dengan teman di sebelahnya. Kemana perginya budaya
gotong royong bangsa ini yang terkenal hingga mancanegara?
Krisis identitas inilah
yang saat ini ingin diperbaiki oleh pemerintah lewat pendidikan karakter.
Ketika seseorang memiliki karakter yang rendah, maka ia akan mengalami
kesulitan dalam proses belajar hingga berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya. Dalam Undang – Undang (UU) nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Sisdiknas) maka pendidikan nasional bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Pendidikan karakter ini
dapat diimplementasikan kedalam setiap mata pelajaran, termasuk matematika.
Matematika merupakan mata pelajaran yang sudah tidak asing di telinga kita.
Namun sayangnya, menurut survey yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun
2013, kemampuan matematika siswa Indonesia menduduki peringkat 64 dari 65
negara yang di survey oleh PISA dengan memperoleh total skor 375. Sungguh ini
sangat menyedihkan, padahal dengan atau tanpa kita sadari pengaplikasian ilmu
matematika telah kita laksanakan dalam kehidupan sehari – hari. Sadarkah akan
hal tersebut?
Pengaplikasian ilmu
matematika pun dapat kita temui dalam budaya Indonesia. Menurut Bishop
matematika merupakan suatu bentuk budaya. Matematika sebagai bentuk budaya,
sesungguhnya telah terintegrasi pada seluruh aspek kehidupan masyarakat
dimanapun berada. Budaya akan mempengaruhi perilaku individu dan mempunyai
peran besar pada perkembangan pemahaman individual, termasuk pembelajaran
matematika.
Lewat pembelajaran
matematika seperti ilmu ukur ataupun perancangan ruangan dibutuhkan sebuah
ketelitian dan kecermatan yang tinggi. Jika kita senang melakukan hal tersebut,
kemudian kita mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari
kemungkinan terjadinya kesalahan dalam hidup kita akan dapat kita minimalisir.
Kita tidak dapat menghilangkan kesalahan itu karena kita bukanlah Tuhan yang
Maha Sempurna. Selain itu, lewat matematika kita diajarkan untuk berpikir
secara sistematis. Dalam mengerjakan soal matematika, kita memerlukan algoritma
atau langkah – langkah yang sistematis agar pengerjaan soal itu benar. Begitu
juga dengan kehidupan kita, hidup ini tak ayal layaknya soal matematika, ada
yang secara tersurat dalam bentuk bilangan namun ada pula yang tersirat seperti
soal – soal cerita. Namun, ketika kita sudah terbiasa berpikir sistematis, maka
kita tidak akan gegabah dalam melakukan langkah – langakah penyelesaian masalah
tersebut. Lakukan langkah pertama, setelah selesai lanjut ke langkah berikutnya
dan begitupun seterusnya hingga sampai pada langkah penyelesaian. Sekali lagi,
sudah sadarkah kita akan pentingnya belajar ilmu matematika?
Matematika bukanlah
pelajaran yanga hanya mementingkan kemahiran dalam pengukuran saja. Hal itu
merupakan pandangan sempit terhadap matematikan dan ternyata pandangan itulah
yang berkembang luas di masyarakat saat ini. Menurut Mulyono Abdurrahman (2003)
mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban
terhadap masalah yang dihadapi manusia; suatu cara menggunakan informasi,
menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan
tentang menghitung, dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri
manusia itu sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan – hubungan. Erman
Suherman (2001) menyatakan bahwa metematika mempelajari tentang keteraturan,
tentang struktur yang terorganisasikan, konsep matematika tersusun secara
hirarkis, berstruktur dan sistematika, mulai dari konsep yang paling sederhana
sampai yang paling kompleks.
Sejak jenjang sekolah
dasar hingga jenjang perkuliahan matematika akan selalu hadir dalam jadwal
pelajaran kita. Namun, sudah tahukah kita apa sebenarnya tujuan awal dari
pembelajaran matematika? Sebagian besar dari kita belumlah mengetahui atau
bahkan tidak peduli dengan hal itu. Andi Hakim Nasution (1982) mengungkapkan
tujuan pembelajaran matematika, yaitu:
1. Matematika dapat digunakan untuk mengetahui
gejala - gejala alam.
2. Dengan penggunaan metode matematika dapat
diperhitungkan segala sesuatu dalam pengambilan keputusan.
3. Matematika penting sebagai ilmu pengetahuan
untuk perkembangan budya bangsa.
4. Matematika dapat digunakan dalam lapangan
kerja.
5. Matematika dapat menyampaikan ide – ide
secara benar, tepat dan jelas kepada orang lain.
Oleh karena itu diharapkan pengajaran
matematika dapat dilakukan dengan kreatif oleh guru dan adanya penerimaan yang
baik oleh siswa. Hendaknya, tujuan inilah yang harus disampaikan dan ditekankan
oleh seorang guru kepada para siswa. Tentunya hal ini pun tidaklah bertentangan
dengan Permendiknas No. 22 tahun 2006, yang menyatakan mata pelajaran
matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berikut:
1.
Memahami
konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan
konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan
masalah.
2.
Menggunakan
penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat
generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika.
3.
Memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,
menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4.
Mengomunikasikan
gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas
keadaan atau masalah.
5.
Memiliki
sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin
tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan
percaya diri dalam pemecahan masalah.
Banyak sekali manfaat dari mempelajari
matematika untuk meningkatkan budaya bangsa agar tidak tergerus oleh budaya –
budaya pendatang lewat perbaikan moral. Lewat pembelajaran matematika, siswa
dilatih untuk bisa mempersiapkan diri dalam mengahadapi masalah yang akan
datang kapanpun. Jika kita lihat keadaan Indonesia saat ini, kasus korupsi
menjadi noda hitam terbesar di wajah Indonesia dalam pandangan dunia. Jika
pendidikan matematika di bangsa ini dilakukan dengan baik dan benar. Dengan
menggunakan metode, strategi, alat, serta sumber pembelajaran yang sesuai,
prinsip pembelajaran yang dilakukan dengan baik maka noda hitam ini tidak akan
ada.
Sebab,
pembelajaran matematika yang sudah kita pahami tujuan awalnya jika
dimplementasikan dalam kehidupan sehari – hari akan memberikan dampak positif
bagi sang pelaku. Contohnya adalah sikap adil dan jujur yang sangat miskin
dimiliki masyarakat Indonesia saat ini. Sikap adil ini dapat kita terapkan pada
siswa lewat konsep prosentase. Sedangkan sikap jujur dapat ditumbuhkan dari
kegiatan berpikir logis dalam kegiatan berhitung yang bermuara pada didapatnya
nilai kebenaran. Konsep pembagian juga dapat dikaitkan dalam perumpamaan sikap
jujur. Dimana saat melakukan pembagian bersusun dengan pola sisa yang
diposisikan di tempat yang sesuai. Hal ini memberikan pengajaran bahwa sesuatu
yang bersisa yang bukan menjadi milik kita harus dikembalikan pada tempatnya. Bukankah
jika hal itu benar – benar dihayati dan dipahami Indonesia akan terhindar dari
sebutan Negara Terkorup di Dunia?
Lewat ilmu matematika pula, seseorang dapat
belajar untuk saling menghargai, sebab dalam penyelesaian masalah matematika
tidak hanya akan berlaku satu rumus saja, tetapi bisa dua ataupun lebih rumus
yang dapat digunakan untuk menyelesaikan sebuah soal. Ketika algoritma kita
berbeda dengan orang lain namun ternyata hasil akhirnya sama kita harus
menghargai itu, karena itulah salah satu seni di matematika. Sikap saling
menghargai inilah yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia yang penuh
dengan keanekaragaman budaya. Dimana sikap saling menghargai inilah yang
melahirkan ciri khas bangsa Indonesia yang tidak akan ditemui di belahan bumi
lainnya, yaitu gotong royong.
Oleh karena itu, pembelajaran matematika yang
baik dan benar sangat dibutuhkan saat ini. Karena lewat pembelajaran
matematika, siswa dipersiapkan untuk mampu mengahadapi berbagai masalah
kehidupan dengan selalu berpikir secara logis dan bertindak secara sistematis
serta teliti. Begitu banyak nilai – nilai kehidupan yang terkandung dalam
matematika seperti kejujuran dan keadilan yang jika dipahami dan dihayati
dengan baik akan dapat membuat Indonesia menjadi negara yang tidak akan
dipandang sebelah mata lagi dikancah dunia.
Daftar Pustaka
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan bagi
Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional , Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata
Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas dan MA. Jakarta: Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional , Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata
Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas dan MA. Jakarta: Depdiknas.
Direktorat Jenderal Dikti Kemendiknas. 2010. Grand desain Pendidikan Karakter, arah serta
Tahapan dan Prioritas Pendidikan Karakter bangsa tahun 2010 – 2015.
Nasution, Andi Hakim. 1982. Landasan Matematika. Jakarta: Bhatara
Karya Aksara.
Sugandi, Asep Iklin. 2012. Peran
Matematika Dalam Menumbuhkan Karakter Siswa. Makalah disampaikan pada
Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta, November 2012.
Suherman, Erman. dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika
Kontemporer. Bandung: Jica.
http://m.kompasiana.com/hadi_dsaktydla/ethnomathematics-matematika-dalam-perspektif-budaya-551f6244a3331189406659fd diunduh pada hari Minggu, 7 Februari 2016
pukul 17.25 WIB.
http://www.masibas.my.id/2013/12/10-negara-peringkat-kemampuan.html?m=1 diunggah pada hari Minggu, 7 Februari 2016
pukul 17.15 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar